PUISI: Pandemi Dunia

Pandemi Dunia

Tersentak….dunia berhenti
Berhenti dari kesibukan diri
Berhenti dari kemegahan diri
Berhenti dari kehebatan diri

Kota-kota lengang sepi
Seperti tak berpenghuni
Kemajuan seakan tak berarti
Teknologi tak dapat pamer diri
Semua menepi, lari dan sembunyi

Tak ada lagi yang berebut kekuasaan
Tak ada yang pamer kekayaan
Tak ada yang adu kekuatan
Luruh, runtuh berdiam dalam kesunyian

Pandemi telah mengubah peradaban
Kepintaran tak ada lagi dalam percakapan
Kekayaan telah hancur berantakan
Kebesaran hanyalah sebuah kenangan

Kini, semua hanya berserah diri
Kepada TUHAN yang maha tinggi
Musuh kuat yang tersembunyi
Telah menjadi sebuah pandemi

(Tunas Putra)

PUISI: Kartini Ditengah Pandemi

Foto: genpi.co

Kartini di tengah pandemi
Mempertahankan keluarga tidak pergi-pergi
Tetap mencukupkan kebutuhan sehari-hari
Meski dunia sedang di landa resesi
Lockdown pintu jalan disana sini

Kartini di tengah pandemi
Menyiapkan masker siap ditali
Mengingatkan tangan selalu dicuci
Mengajak keluarga berjemur setiap pagi
Menyediakan nutrisi penuh gizi

Kartini di tengah pandemi
Membuat rumah bersih dan rapi
Memeriksa pintu-pintu selalu terkunci
Ibadah keluarga dirumah setiap hari
Rajin berdoa agar pandemi segera pergi

(Tunas Putra).

PUISI: Mawas Diri

Sendiri sepiSaatnya kita menyadari
Bahwa kèhidupan tlah berganti
Jalan-jalan tlah mulai nampak sepi
Toko toko sudah tidak ada pembeli
Pintu-pintu rumah tlah rapat terkunci
Suara canda tawa tak terdengar lagi
Kemeriahan hiruk pikuk tlah berhenti
Kampung-kampung mulai nampak sunyi

Dunia kini tlah mulai berubah
Jauh dari kehidupan yang mewah
Tak ada lagi harta yang berlimpah
Tak ada lagi suara kidung yang indah
Hanya suara sendu lirih penuh desah
Wajah-wajah sayu yang nampak susah
Sorot sinar mata yang penuh gundah
Suara lirih yang terdengar gelisah
Seakan kehidupan kan segera punah

Kini,
Sudah saatnya kita mawas diri
Memeriksa masing-masing pribadi
Menilik lebih dalam setiap hati
Apa arti kehidupan ini
Masih adakah arti kemegahan diri
Rasa rasa congkak, iri dan dengki
Atau memang hati kita sudah suci
Mendekatlah kepada Bapa Surgawi
Agar pandemi bumi segera berhenti

(Tunas Putra).

PUISI: Virus Corona

VIRUS CORONA

Sunyi sepi seperti kota mati
Seakan sudah tak berpenghuni
Lalu lalang sudah tak ada lagi
Keramaian kota telah berhenti

Virus Corona telah menjadi pandemi
Yang menghantui penduduk bumi
Hanya para petugas yang berani mati
Yang rela bekerja sepenuh hati

TUHAN, Jangan biarkan terus begini
Selamatkan umatmu yang KAU kasihi
Beri kesempatan kami mendekatkan diri
Tuk menerima ampunan BAPA SURGAWI

(Tunas Putra)

PUISI: Tahun Baru

musim bunga tahun baru

TAHUN BARU

Masih adakah mentari kan berseri
Menjelang waktu yang kan terlewati
Masih adakah musim bunga kan bersemi
Tahun yang kan segra berganti

Luka lama masih begitu terasa perih
Kenangan hitam masih terbayang pedih
Seakan ku tak kan sanggup pulih
Tuk dapati yang kan dapat ku raih

Namun ku harus tetap berdiri
Karena hari baru harus ku hadapi
Esok kan masih ada fajar pagi
Yang merekah sepanjang hari

Semoga masih ada keajaiban
Dalam langkah-langkah perjalanan
Hidupku berbeda dalam kehidupan
Tiap detik selalu ada kemajuan

(Tunas Putra).

PUISI: Masih Ada Harapan

Merangkak

Ketika kau sudah tidak mampu berlari
Kau masih bisa berjalan
Ketika kau sudah tidak sanggup berjalan
Kau masih bisa mencoba merangkak
Ketika kau sudah tidak kuat merangkak
Kau masih bisa berdoa
Ketika kau sudah tidak bisa lagi berdoa
Roh Kudus akan membantu berdoa
Dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan

(Tunas Putra).

PUISI: Hidup Yang Berpengharapan

Hidup Semangat

Hidup ini memang kadang menyakitkan.
Dengan berbagai himpitan persoalan.
Yang susah untuk dilupakan.
Masa lalu yang penuh dengan kepahitan.
Masa kini yang penuh dengan beban.
Demikian pula masa depan yang belum ada persiapan.

Hidup ini juga kadang menyenangkan.
Melihat alam semesta yang mengagumkan.
Teman-teman yang memberi perhatian.
Kadang juga pengalaman-pengalaman indah yang mewarnai kehidupan.

Namun, apapun keadaan.
Hidup ini tetap memiliki pengharapan.
Pengharapan akan penyertaan Tuhan.
Pengharapan akan hidup berkelimpahan.
Dan pengharapan akan keselamatan.

(Tunas Putra).

PUISI: Damai Sejahtera Abadi

Ketika bulan tak lagi berseri
Bintang-bintang tak nampak menghiasi
Mentari tak terbit di pagi hari
Bahkan bungapun enggan bersemi

Janganlah pernàh gelisah di hati
Karena Tuhan tak membiarkan kau sendiri
IA kan selalu menyertai
TanganNyà kàn selalu memegangi

Langkahmu tak kan terhenti
CahayaNya kan tetap menerangi
Hingga kau menemukan cinta sejati
Dalam dalam sejahtera yang abadi

(Tunas Putra).

PUISI: ALLAH Penguasa Siang dan Malam

siang dan malam

Tuhan, seandainya ENGKAU adalah mentari
Betapa malangnya kehidupan malam tanpa-MU
Seandainya ENGKAU adalah rembulan
Bagaimana mereka yang hidup siang hari
Namun ENGKAU bukankah mentari
Yang hanya bersinar di siang hari
ENGKAU bukanlah rembulan
Yang hanya sanggup berseri di malam hari
ENGKAU adalah penguasa alam semesta
Pencipta siang dan malam
ENGKAU ada saat siang hari
ENGKAU berkuasa saat malam hari
ENGKAU adalah ALLAH bagi segala yang hidup
Sungguh ku bersyukur memiliki ALLAH seperti-MU

 

(Tunas Putra)

PUISI : Teroris

Teroris

TERORIS

Enyahlah engkau para teroris
Dengan segala lagakmu yang bengis
Tindakanmu sungguh kejam dan sadis
Kau buat banyak orang hatinya teriris
Disana-sini terdengar suara menangis

Dalam Kitab Suci jalan hidupmu tertulis
Seakan hal itu sudah menjadi garis
Bahwa akhir zaman cinta kasih akan habis
Belas kasihan sudah hilang dan terkikis
Satu dengan yang lain akan saling sinis

Tetapi denganmu kami tak kan takut
Hati kami tak kan pernah merasa ciut
Karena kamu adalah para pengecut
Yang hanya suka membuat kita ribut

Kami siap untuk bersehati
Melawanmu teroris yang suka beraksi
Kami percaya kami tak kan pernah mati
Karena TUHAN pasti menyertai

(Tunas Putra)