Posts Tagged With: Doa Online

PUISI : Bapa

Bapa,
MataMu melihat jauh ke dalam hatiku
Berapa banyak dosa yang kusembunyikan
Tak ada yang terlewatkan bagiMu
TelingaMu mendengar jelas keluhan
Yang paling lemah sekalipun
Yang tidak terdengar telinga manusia
BibirMu senantiasa berbicara
Tanpa mengenal lelah untuk menasihati
Anak-anakMu yang Engkau kasihi

Bapa,
PerasaanMu selalu merasakan
Apa yang dirasakan anak-anakMu
Dalam menangggung beban
Betapa beratnya hidup ini
PikiranMu senantiasa memikirkan
Bagaimana mensejahterakan
Anak-anakMu yang Engkau kasihi

Bapa,
TanganMu senantiasa bekerja siang dan malam
Untuk menolong anak-anakMu
Yang sedang kesusahan
KakiMu senantiasa berjalan
Membawa anak-anakMu
Menuju jalan damai sejahtera

Bapa,
Sungguh besar kasihMu
Tak terhitung oleh pikiranku

Amin

Categories: Puisi Rohani | Tag: , , , , , , | Tinggalkan komentar

PUISI : Saat Rabu Abu

SAAT RABU ABU
Satu demi satu
Kau singkapkan semua dosaku
Satu demi satu kau bedah hatiku
Terasa pedih, perih dan pilu
Namun aku harus mengaku
Dihadapan Bapaku

Kini
Kau buang masa laluku
Kau ganti dengan hidup baru
Kau buang semua dosaku
Kau ganti dengan hati yang baru

RABU ABU
Meski hanya sebuah abu di dahi
Kau telah mengubah hidup ini
Aku tak pernah lagi menyesali
Semua yang telah aku lewati
Hidupku jadi penuh arti
Karena ada Tuhan yang telah mengampuni
Semua dosa-dosaku ini
AMIN

Categories: Puisi Rohani | Tag: , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

RENUNGAN : Rabu Abu

RABU ABU

“Sebab aku makan abu seperti roti, dan mencampur minumanku dengan tangisan.” Mazmur 102:10

Ada banyak gereja yang merayakan apa yang disebut dengan “Rabu Abu” pada hari ini. Ini adalah merupakan suatu tradisi gereja kuno. Meskipun ada banyak gereja yang lain tidak merayakannya. Hari Rabu Abu adalah merupakan suatu hari persiapan bagi perayaan paskah. Dihitung 40 hari sebelum paskah dikurangi hari minggu. Pada hari Rabu Abu biasanya para anggota gereja yang datang akan diberi abu di dahi berbentuk salip, sebagai tanda dukacita. Demikian juga mereka akan melakukan pantangan yaitu membatasi makan dan berpuasa. Hal itu sama seperti Ester dan Raja Daud yang menggunakan abu dan berpuasa sebagai tanda dukacita. Apakah gereja merayakan atau tidak itu bukan masalah. Namun ada sisi-sisi baik bagi gereja yang merayakannya. Karena dengan simbol-simbol, lambang-lambang, ataupun istilah-istilah yang sederhana, akan mempermudah suatu umat mengingat perayaan-pearayaan atau peristiwa-peristiwa yang dialami oleh Yesus Kristus.

Peringatan adalah merupakan suatu kegiatan untuk memperingati sesuatu, namun ada yang lebih utama yaitu yang diperingati itu sendiri. Yaitu pertobatan. Dukacita oleh karena dosa-dosa yang diperingati menggunakan simbol atau lambang abu dan berpuasa. Sebagai suatu tindakan untuk pertobatan. Oleh sebab itu marilah. Di dalam Rabu Abu pada hari ini. Apakah gereja kita merayakannya atau tidak, namun sikap untuk berduka cita atas dosa-dosa kita. dan pertobatan itu wajib dilakukan oleh semua orang. Meskipun untuk melakukannya tidak harus menunggu Rabu Abu. Namun paling tidak Rabu Abu akan mengingatkan akan dosa-dosa kita yang banyak. Kita perlu bertobat dan mengakui bahwa hanya Yesus Kristus yang mnjadi satu-satunya Juru Selamat kita. yang dapat memberi pengampunan atas –dosa-dosa kita.

Selamat merayakan Hari Rabu Abu dan selamat bertobat. Tuhan memberkati.

Categories: Renungan | Tag: , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

PUISI : Cinta Sejati

CINTA SEJATI
Cinta sejati ada di dalam hati
Yang tidak akan pernah mati
Oleh pencobaan dunia ini
Cinta itu kan bersemi
Oleh karena kasih Ilahi
Cinta sejati teruji waktu
Meski lama tak bertemu
Cinta sejati tetap menyatu
Tanpa ada bimbang ragu
Cinta sejati teruji tempat
Kan tetap melekat
Meski tempat tidak dekat
Tapi hati terasa erat
Cinta sejati teruji harta
Menerima apa adanya
Meski tidak punya apa-apa
Tapi hati tetap ingin menyapa
Cinta sejati teruji fisik
Meski wajah tidak cantik
Namun hati tetap tertarik
Hanya Tuhan yang bisa memberi
Cinta sejati yang kekal abadi
Mari kita minta Bapa Surgawi
Memberi cinta sejati dalam hati
Amin.
Categories: Puisi Rohani | Tag: , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

PUISI : Doa Maria

DOA MARIA
Hatiku beku karena pilu
Mataku perih karena pedih
Dadaku sesak karena tersentak
Saat kulihat anakku tersayat
Diatas kayu dengan tangan kaki terpaku
Anakku dan juga Tuhanku
Ku lepas Engkau ke alam bebas
Dalam pengorbanan yang dalam
Bawa ibumu bersamamu
Saat Engkau kembali yang kedua kali
Damai yang Kau miliki
Kiranya dibagi-bagi
Bagi semua insani
Yang telah menanti
Engkau kembali
Amin.
Categories: Puisi Rohani | Tag: , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

PUISI : Janji Merapi

JANJI MERAPI

Ceritakan kepadaku
Mengapa amarahmu menyala-nyala tak surut
Ceritakanlah kepadaku
Dengan apakah aku meredam amarahmu
Sedang sawah, ladang dan hamparan hijau dedaunan itu telah kau sapu bersih
Ternak dan berbagai peliharaan telah terkubur di bawah pasir yg panas membara
Sedangkan anak-anak telah terlantar diatas onggokan pasir kering yg membisu
Orang-orang jompo terlentang diantara bebatuan yg terhampar
Tidakkah kau ingat akan janjimu dulu
Akan senantiasa setia memberkati anak-anakmu
Kau berikan tanah subur yang tiada bandingnya
Kau berikan pasir yang berlimpah-limpah
Agar anak-anakmu bisa makan dan membangun
Tidakkah kau ingat akan janjimu dulu
Kau hanya meminjam sesaat untuk dikembalikan berlipat-lipat
Tetapi kini,
Kau biarkan anak-anakmu menangis meraung-raung siang dan malam
Mereka telah kehilangan sandang pangan mereka
Sedang amarahmu belum juga surut
Kembalilah merapiku
Bawalah anak-anakmu tinggal bersamamu
Mereka rindu melihat senyummu seperti yg dulu
Aku menunggumu

Categories: Puisi Rohani | Tag: , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

PUISI : Menabur Kasih Di Merapi

MENABUR KASIH DI MERAPI
Hanya doa yang dapat kupanjatkan
Hanya senyum yang dapat kutebarkan
Belaian tanganku mungkin dapat menghiburmu
Ataupun mungkin kata-kata manisku yang dapat menguatkanmu
Engkau yang terlunta-lunta di puncak Merapi
Jalanmu yang mulai tertatih-tatih
Senyummu yang tak manis lagi
Bahkan kulitmu yang nampak kering kerontang
Rumah, ternak dan tanahmu telah dimakan api Merapi
Membuat engkau tak mampu bernyanyi lagi
Suara tangisan anak-anakmu yang memilukan
Terdengar siang dan malam tak henti
Meski hanya sesuap nasi yang kumiliki
Atau jabat erat tanganku yang kuberikan
Inilah wujud kasihku kepadamu
Para korban letusan gunung Merapi
Semoga engkau segera dipulihkan
Dalam senyum manis keindahan Merapi
Amin

Categories: Puisi Rohani | Tag: , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

PUISI : Menyembah-Mu

MENYEMBAH-MU

Kau bawa hatiku terbang tinggi

Dalam damai yang tak terperi

Kau bawa jiwaku melayang tinggi

Dalam suasana surgawi

Menyembah-Mu

Kau bangkitkan pujian meninggikan Ilahi

Kau bangkitkan rasa syukur pada Bapa Surgawi

Dia yang membakar rohani

Untuk hidup dan bersemi

Menyembah-Mu

Karnamu berkat berlimpah selalu

Karnamu berkemenangan dalam menghadapai segala sesuatu

Karnamu hatiku tak pernah bimbang ragu

Karnamu aku makin cinta pada Tuhanku

Menyembah-Mu

Tak kan pernah kulewatkan dalam hidupku

Dia selalu hadir memberkatiku

Aku senang memilikimu

Engkau mempertemukanku dengan Tuhanku

Amin

Categories: Puisi Rohani | Tag: , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

PUISI : Doa

DOA

Engkau selalu memanggilku di setiap waktu

Saat bangun tidur aku ingat kamu

Saat mau tidur aku ingat kamu

Saat mau makanpun aku selalu ingat kamu

DOA

Engkau tak pernah jauh dariku

Engkau membawaku dalam damai sejahtera

Engkau mengajakku untuk mengingat orang-orang yg kukasihi

Engkau mengajakku menyebut nama-nama mereka

Engkau mengingatkanku terhadap orang-orang yang ada di sekelilingku

DOA

Hidup bersamamu tidak membutuhkan biaya

Tinggal bersamamu memberi harapan-harapan pasti

Dekat denganmu memberi berkat-berkat berkelimpahan

Tak jauh darimu memberi ketenangan abadi

DOA

Engkau memiliki kuasa lebih dari padaku sendiri

Engkau juga tak pernah menuntut apapun dariku

Sungguh aku bersyukur memiliki engkau

Doa, aku akan senantiasa hidup bersamamu

Amin.

Categories: Puisi Rohani | Tag: , , , , , , , | Tinggalkan komentar

PUISI : Malas

MALAS

Engkau telah membuat kepalaku lebih besar dari pada tubuhku

Terasa berat aku memikulnya

Engkau telah memborgol tanganku seperti narapidana

Tak bebas aku menggerakkannya

Engkau telah memasung kakiku dengan terali besi

Ingin aku berlari, namun tak kuasa

Engkau telah membuat mataku sipit seperti mentari hampir tenggelam

Tak jelas aku melihat sekelilingku

MALAS

Engkau telah menghias bantalku lebih menarik dari apapun juga

Engkau telah menghias tempat tidurku laksana permadani suci

Hari-hari telah mendekapku seperti seorang bayi mungil

Siang terlalu panas bagiku untuk keluar

Malampun terlalu dingin bagiku untuk melihat bulan

MALAS

Kini aku telah berada dalam pelukanmu

Tak ada satupun yang dapat membebaskanku

Engkau telah membuat tanganku terlalu halus untuk memegang

Kakiku terlalu berat untuk melangkah

Bapa, bebaskanlah aku

Dari pelukan malas

Agar aku dapat melayani-Mu

Categories: Puisi Rohani | Tag: , , , , , , , | Tinggalkan komentar